Alice dan tom adalah teman kecil yang sangat setia, minggu depan alice akan merayakan ulang tahunnya yang ke-10, tepat tiga bulan sepuluh hari setelah tom merayakan ulang tahunnya pada usia yang sama. Alice berasal dari sebuah keluarga mapan yang pendapatan ayahnya hampir duapuluh kali pendapatan ibu Tom, dapat dimaklumi karena ibu Tom, Martha, harus berjuang sendiri setelah kepergian suaminya tiga tahun yang lalu.
Pagi ini entah kenapa Tom terlihat murung dirumahnya, padahal biasanya dari pukul 9 hingga pukul 12 adalah waktu bermain ular tangga di rumah Alice yang diselingi kudapan yang dimasak ibu Alice, kemarin ibunya meletakkan puding jagung di depan meja bermain mereka. Tom terlihat memelototi sepatu pemberian Alice tiga bulan yang lalu, pada ulang tahunnya yang dirayakan di rumah dengan lima orang teman mereka yang lain. Dalam benaknya dia bingung, hadiah apa yang harus ia berikan kepada Alice minggu depan. Ini tanggal 15, pertengahan bulan adalah tanggal dimana ibu Tom berjuang mengumpulkan uang untuk membayar tagihan listrik dan air panas. Sepertinya bukan ide yang tepat untuk meminta kepada ibunya sebuah hadiah kecil untuk Alice dalam kondisi ini.
Namun tom yang periang tetap mencoba berkomunikasi dengan ibunya perihal hal tersebut, dan sesuai dugaan, ibunya menjawab, “Ucapan selamat sepertinya sudah cukup baik untuk Alice, kondisi kita tidak memungkinkan”, Tom terus mendesak “Atau mungkin sebuah hadiah yang terlambat bu”, seperti sebelumnya sang ibu menjawab “Sudah seharusnya kau memahami kondisi kita Tom!”. Kembali ke kamarnya, Tom termangu dan berfikir tentang apa yang seharusnya telah ia dapat lakukan andai saja ia berada dalam kondisi yang lebih baik. “Namun apa ini saatnya untuk menyerah?, pikirnya. “Setidaknya aku bisa melukis” hatinya mengamini lagi.
Tom bersekolah tidak jauh dari rumahnya, dan dikenal sebagai anak yang menonjol dalam seni dan rupa, tapi ia lemah dalam matematika. Ia mulai memeriksa meja belajarnya, dan menemukan peralatan gambar yang tersisa tidak lebih dari 10% warna merah dan ungu, alat pewarna yang lainnya telah habis total. Dan ia menemukan sebuah spidol hitam masih terbungkus belum terpakai. Diambilnya sebuah kertas gambar lebar yang sudah tidak lagi putih sempurna, kekuning-kuningan. Ia mulai menarik tipis kerangka sketsa berbentuk oval dengan ketebalan seperempat spidolnya, ia mulai menggambar. Sketsa yang dibuatnya dilanjutkan dengan tarikan lebih tipis memanjang dan berulang, setelah beberapa lama tampak sketsa tersebut menggambarkan seorang perempuan dengan rambut panjang hingga bahu. Tom menyelesaikan bagian gambarnya hari ini setelah jam menunjukkan pukul 10 malam, ia tidur.
Gambar tersebut dilanjutkan Tom dalam empat hari berikutnya hingga benar-benar sempurna, gambar itu menunjukkan seorang gadis kecil dengan mata besar, hidung yang mancung dan bintik di wajahnya. Namun terdapat dua noda pada tengkuk belakang telinga, di bawah kepangan rambut gadis itu, terlihat seperti sebuah tato yang lebih menyerupai luka. Tom bingung karena noda itu tampak jelas baginya hingga ia begitu pusing bahwa Alice tidak akan pernah suka pada gambar itu, ya, itu adalah gambar Alice sebagai hadiah yang akan diberikan Tom dua hari lagi.
Pada hari rabu berikutnya, Alice mengadakan acara ulang tahun yang cukup meriah untuk ukuran seorang anak berumur sepuluh tahun, pesta barbekyu di belakang rumah dengan banyak topi kerucut dan sirop dingin. Tom mengenakan kemeja terbaiknya yang berwarna biru dengan kerah terbuka dan agak runcing di ujungnya, kemeja itu memang tampak tepat untuknya. Tom berucap selamat kepada Alice, ia pun memberikan bungkusan panjang berwarna merah dengan pita putih menghiasinya. Alice yang penasaran setelah menerima hadiah itu lantas membukanya dengan cepat dan penuh rasa ingin tahu. Sebuah lukisan wajah dengan bingkai kayu coklat dipegangnya dengan senyuman , “Ini luar biasa Tom, Aku sangat menyukainya” Alice berkata riang. Tom yang takut Alice akan melihat dua noda pada gambar itu bertanya, “Apakah kau tak melihat sesuatu yang jelek dan mengotori gambarmu Alice? Dua noda yang ada di belakang telingamu?”, lantas Alice menjawab dengan senyum yang lebih lebar “Mengapa aku harus melihat dua noda jelek itu sedangkan ada ribuan goresan indah di gambar ini Tom?”. Senyum Tom pun mengembang.


Posting Komentar