Jack

      Julia telah menikah dengan Sam selama lebih dari enambelas tahun, sampai akhirnya Sam meninggal bulan lalu karena kecelakaan dalam pekerjaan. Kesedihan masih menyelimuti Julia yang harus menghidupi dua anaknya, Jack dan si kecil Mary, sendirian. Julia harus menghemat uang santunan yang diberikan perusahaan tempat Sam bekerja sampai ia mendapat pekerjaan yang bisa membantunya menghidupi kedua anaknya serta biaya sekolah yang kian lama semakin membengkak. Semester depan Mary akan masuk sekolah dasar, dan itu menjadi beban tersendiri buat Julia yang masih harus berkeliling kesana-kemari untuk mencari sedikit peluang usaha untuknya dapat menjamin masa depan anak-anaknya.
Jack tahun ini berusia 15, ia adalah seorang anak yang penurut dan mungkin anak yang tidak banyak menuntut untuk ukuran seusianya. Mungkin ia menyadari bagaimana kondisi yang kini mendera ibunya, atau mungkin ia terpaksa harus tahu bagaimana berada pada posisi tersebut. Paling tidak Julia dapat sedikit lega dengan kehadiran Jack yang biasanya diamanahkan untuk menjaga Mary selama Julia harus mencari pekerjaan di luar, juga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan Julia. Jack adalah anak yang tenang, meskipun ia merasa waktu bermainnya bersama teman-teman di luar rumah menjadi berkurang karena itu. 

 

Suatu hari sepulang sekolah, Jack diberi tugas untuk memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, Julia sedang berangkat ke tempat Nicole, sepupunya, untuk mencari peluang usaha untuk sekedar mencerahkan kehidupan mereka, ia membawa Mary. Namun Jack lupa melakukan tugasnya dan bermain skateboard bersama teman-temannya di taman kota, sesuatu yang sering dilakukannya sebelum kepergian Sam. Hingga akhirnya dia teringat akan tugas tersebut dan bergegas pulang untuk melakukannya. Namun sore itu Julia telah berada di rumah, tengah memasak di dapur. Jack bergegas menuju mesin cuci karena tahu ia terlambat melakukan tugasnya, namun pakaian kotor telah semuanya dimasukkan ke dalam mesin.
Julia menghampiri Jack dengan seketika berada di belakangnya, Jack yang kebingungan langsung bermohon “Maaf bu, aku baru ingat”, ibunya langsung meyambar “Tak bisakah kau memahami keadaan kita sekarang Jack, ataukah aku telah merawat seorang pembangkang?”, “Aku minta maaf bu, aku hampir lupa, aku bersumpah” Jack menimpali lagi. Julia masih pada tingkat emosi yang sama “apakah aku saja yang harus melalui masalah ini sendiri,tak bisakah kau membantuku sedikit Jack? untuk memahami kondisi ini?. Jack dengan nada bermohon berkata “ Apakah bila ibu bercerita dengan teman-teman ibu tentang kondisi rumah kalian, tentang anak-anak mereka yang ketergantungan obat-obatan dan  yang mati karena AIDS, ibu akan berkata “akhhh, itu belum seberapa, Jack anakku lupa memasukkan pakaian ke mesin cuci”!! ”. Julia tersentak dan terdiam, rasanya ia kembali kepada kesadaran bahwa selalu ada Jack yang membantunya melewati masalah-masalah ini, dalam depresinya yang benar-benar dalam. Apakah itu semua akan hilang hanya karena Jack lupa memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci? Ia lupa tentang Jack, apa yang dikorbankannya, masa remajanya yang seharusnya diisi dengan keceriaan. Julia mendatangi kamar Jack, dengan berkaca-kaca ia berbisik “terima kasih Jack”. Sedikit pelukan hangat di sore hari.

Posting Komentar